<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rizki A. Hakim&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://rizkiaha.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rizkiaha.wordpress.com</link>
	<description>sebuah ceracauan dengan tujuan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 Sep 2009 07:36:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rizkiaha.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rizki A. Hakim&#039;s Blog</title>
		<link>http://rizkiaha.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rizkiaha.wordpress.com/osd.xml" title="Rizki A. Hakim&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rizkiaha.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tentang Semangat</title>
		<link>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/09/17/tentang-semangat/</link>
		<comments>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/09/17/tentang-semangat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 07:36:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizki Abinul Hakim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rizkiaha.wordpress.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Semangat membela kebenaran harus disertai keterbukaan terhadap kebenaran lainnya. Tanpa itu, semangat hanya akan menjadi ekstremitas. Lalu, pada akhirnya, si pembela kebenaran, akan menjadi penginjak kebenaran. Syahdan, satu hari, karena kesal terhadap bapak-bapak yang melakukan pelecehan di kereta, seorang pemuda menempelengnya. Keras, tanpa perlawanan. Itu buruk, salah, dan sampai kapan pun tidak bisa dibenarkan. Namun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkiaha.wordpress.com&amp;blog=8830387&amp;post=61&amp;subd=rizkiaha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semangat membela kebenaran harus disertai keterbukaan terhadap kebenaran lainnya. Tanpa itu, semangat hanya akan menjadi ekstremitas. Lalu, pada akhirnya, si pembela kebenaran, akan menjadi penginjak kebenaran. </p>
<p>Syahdan, satu hari, karena kesal terhadap bapak-bapak yang melakukan pelecehan di kereta, seorang pemuda menempelengnya. Keras, tanpa perlawanan.<br />
Itu buruk, salah, dan sampai kapan pun tidak bisa dibenarkan.<br />
<span id="more-61"></span><br />
Namun sayangnya, hari-hari itu cukup banyak.</p>
<p>Di hari lain, karena kesal terhadap bapak-bapak yang menarik keras seorang anak perempuan pengemis. Si pemuda mencarinya. Bersiap menghantam. Tapi ternyata si Bapak adalah ayah si pengemis. Dan pukulan hanya akan melahirkan kekejian, yang akan ditumpahkan ke anaknya: si pengemis perempuan.</p>
<p>Dunia bukan hitam putih kawan. Bukan film Slum Dog Millionare, di mana si anak adalah korban sindikat mafia pengemis yang tega hati membutakan salah satu pengemisnya.</p>
<p>Juga bukan cerita dongeng, di mana perkawinan di Istana beserta lenyapnya si penjahat, entah bagaimana, memakmurkan seluruh rakyat kerajaan. </p>
<p>Gap itu, jauh, kawan. Seorang berkuasa yang mendekatinya dengan tidak sabar, gagal dengan The Great Leap Forwardnya. Rakyat Cina mati, dan dunia mengenalnya dengan The Great Leap Backward. Sebuah eksperimen mahal atas ketidaksabaran Mao, si Penjagal.</p>
<p>Lalu, hari kemarin, si pemuda melakukan sebuah langkah, yang menurutnya, benar.</p>
<p>Ia kesal dengan seorang preman terminal kampung melayu, yang meminta uang dengan paksa kepada supir mikrolet. Ia mencengkeram, menariknya ke sebuah pojok, bersiap memukulnya. </p>
<p>Namun, saat mencengkeram, ia merasakan ketakutan si preman, ia merasakan manusia. Manusia yang memiliki hak untuk berubah menjadi orang yang lebih baik. Manusia, yang sama sekali tidak pantas untuk dianiaya.<br />
Lalu, alih-alih melakukan keburukan di atas keburukan. Ia menasihati preman untuk tidak memaksa, dan meninggalkannya.</p>
<p>Setelah itu, si pemuda berhenti menjadi pembela kebenaran karbitan.<br />
Ia menyadari bahwa &#8220;perjuangan bukan hanya soal gigitan terhadap kebenaran substansi&#8221;. Tapi juga soal metode dan, terutama, kesabaran.<br />
Ketangguhan.<br />
Kedisiplinan terhadap kode etik seorang muslim, meski marah terhadap keadaan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rizkiaha.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rizkiaha.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rizkiaha.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rizkiaha.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rizkiaha.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rizkiaha.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rizkiaha.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rizkiaha.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rizkiaha.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rizkiaha.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rizkiaha.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rizkiaha.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rizkiaha.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rizkiaha.wordpress.com/61/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkiaha.wordpress.com&amp;blog=8830387&amp;post=61&amp;subd=rizkiaha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/09/17/tentang-semangat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afcff417661c298ea5acf24a7c0767fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penghapusan Pembukaan UUD &#8217;45?</title>
		<link>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/09/17/penghapusan-pembukaan-uud-45/</link>
		<comments>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/09/17/penghapusan-pembukaan-uud-45/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 07:23:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizki Abinul Hakim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rizkiaha.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Elit Indonesia, nampaknya, lebih mengikuti pemikiran seorang ekonom dua abad lalu daripada tujuan pendirian negara ini. David Ricardo, 1817, berbicara tentang keuntungan perdagangan melalui comparative advantage pada Principles of Political Economy and Taxation. Sementara Panitia Sembilan berbicara tentang tujuan pendirian Negara Indonesia pada Pembukaan UUD 1945. Ricardo, seorang ekonom dan broker saham, mengadvokasi perdagangan atas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkiaha.wordpress.com&amp;blog=8830387&amp;post=59&amp;subd=rizkiaha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Elit Indonesia, nampaknya, lebih mengikuti pemikiran seorang ekonom dua abad lalu daripada tujuan pendirian negara ini.</p>
<p>David Ricardo, 1817, berbicara tentang keuntungan perdagangan melalui comparative advantage pada Principles of Political Economy and Taxation. Sementara Panitia Sembilan berbicara tentang tujuan pendirian Negara Indonesia pada Pembukaan UUD 1945.<br />
<span id="more-59"></span><br />
Ricardo, seorang ekonom dan broker saham, mengadvokasi perdagangan atas manfaat efisiensi produksi dan penambahan konsumsi. Sedangkan Panitia Sembilan –Soekarno, Hatta, dan kawan kawan- mengadvokasi penghapusan penjajahan di atas dunia. Mereka menyatakan, lalu menjadi sebuah konstitusi, bahwa merdeka adalah hak segala bangsa dan penjajahan tidak adil serta tidak manusiawi.</p>
<p>Tapi, sebulan lalu, tanpa ribut-ribut dari elit republik ini, Indonesia toh membuka diri terhadap delegasi Israel untuk bisnis dan perdagangan. Dan dengan itu kita, secara tidak resmi, telah menyatakan lupa, dan mungkin maklum, terhadap kebiadaban Operasi Cast Lead pada awal tahun ini.</p>
<p>Memang, Israel adalah sebuah negara unggul -dalam bidang IT, komunikasi, dan pertanian- yang layak berdagang dengan Indonesia. Perdagangan antar dua negara, menurut comparative advantage, akan menghasilkan efisiensi produksi sehingga rakyat dua negara dapat mengkonsumsi lebih banyak. Pada akhirnya, apakah  mungkin, berkat hubungan dagang dengan Israel, Indonesia akan lebih makmur dan sejahtera? Dan, sebagai contoh Mesir telah membuka hubungan bilateral dengan Israel, dan melakukan kerjasama diberbagai bidang, termasuk dibidang pertanian. Apakah Mesir sekarang menjadi negara yang lebih makmur?</p>
<p>Namun, dalam Principles of Political Economy, Ricardo hanya seorang ekonom positif yang berbicara mengenai pengungkapan sebuah fenomena: manfaat hubungan dagang antar negara normal. Ia, seperti seorang ilmuwan yang berbicara tentang bunyi, mengungkapkan proses terjadinya bunyi tanpa berbicara bagaimana seharusnya bunyi yang baik bisa terjadi dan terdengar.</p>
<p>Dan Israel, bukanlah sebuah bunyi yang baik. Pemerintahannya -yang keji- belum, dan entah kapan, berlaku baik terhadap negara jajahannya. Tepi Barat, sebuah daerah lemah, ditutup oleh 130 km tembok pembatas ilegal, dan Gaza dihancurkan oleh sebuah operasi militer era modern. Pemerintah Israel, yang tuli terhadap protes kemanusiaan, adalah sebuah perintah yang, selama 22 hari operasi Cast Lead, membunuh 1409 orang, di mana 83 persen-nya adalah korban sipil.</p>
<p>Sementara Indonesia, setidaknya 64 tahun lalu, adalah sebuah cita-cita luhur. Mereka, di alinea pertama pembukaan konstitusinya, berbicara tentang kemerdekaan dan penghapusan penjajahan. Seperti seorang komponis, Indonesia 64 tahun lalu berbicara tentang penyusunan bunyi yang baik: bagaimana seharusnya hubungan luar negeri, ketertiban dunia, harus terjadi.</p>
<p>Indonesia, memang, berbicara juga tentang kemajuan kesejahteraan umum, namun, pada konteks yang berbeda. Kesejahteraan umum dalam konstitusi adalah kesejahteraan rakyat kecil -konteks 1945- yang belum mampu untuk makan tiga kali dalam sehari. Bukan kesejahteraan umum untuk penambahan konsumsi agar lebih banyak, yang tidak jelas untuk apa, selain obesitas. Dan bukan kesejahteraan umum, hasil perdagangan luar negeri, yang dibangun dari darah rakyat negara lain.</p>
<p>Namun, pada saat-saat ini, Indonesia telah mengabaikan cita-cita luhur itu. Efisiensi produksi dan penambahan konsumsi, jauh lebih penting daripada tujuan sesungguhnya negara ini didirikan. Perdagangan dan kerjasama dengan Thailand, misalnya, menjadi jauh lebih penting dari soal kemanusiaan dalam konstitusi. Indonesia, lalu memilih diam terhadap kekejian pelarungan ratusan Muslim Rohingya ke laut.</p>
<p>Hal serupa dengan Cina, di mana pemberian kredit dan lakunya ekspor migas merupakan hal yang lebih penting dari konstitusi negeri. Penindasan Muslim Uighur lantas menjadi soal dalam negeri Cina, yang tidak usah diusik-usik, bukan soal keadilan sosial seperti dalam konstitusi.</p>
<p>Solidaritas Asia, 60 tahun lalu, rasanya, tidak dengan mudah berulang. Saat itu, 19 negara Asia sangat konsisten mendukung kemerdekaan Indonesia dan menjadi pengecam keras Agresi Belanda II. Pembukaan hubungan dagang dengan Belanda, pada saat itu, mungkin akan menjadi sebuah pengkhianatan tak terlupakan. Dan sejarah mencatat, negara ini berhutang budi, sangat banyak, terhadap solidaritas seperti itu.</p>
<p>Namun memang, seperti kata Ketua Kadin, perdagangan dengan Israel -apabila benar terjadi- dapat menguntungkan Indonesia. Keunggulan mereka di bidang IT, komunikasi, dan teknologi pertanian -seperti hanya mereka yang memiliki keunggulan tersebut- bisa membuat rakyat Indonesia lebih makmur dan sejahtera.</p>
<p>Dan kemakmuran itu, dibangun di atas legitimasi pembunuhan 1409 orang, dalam sebuah operasi selama 22 hari. Kesejahteraan, yang dibangun di atas pemakluman terbunuhnya 111 perempuan dan 355 anak-anak.</p>
<p>Maka, sebuah keniscayaan. Kesejahteraan yang dibangun dengan pengabaian prinsip dasar, dapat dipastikan, selalu dibangun di atas legitimasi pencabutan hak hidup orang lain.</p>
<p>Dan kita tahu, itu bukan hanya soal dagang luar negeri, tapi, bisa juga soal cara sebuah partai politik membangun kekuatannya. Seperti kesejahteraan, dengan pengabaian prinsip keadilan dan kebenaran.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rizkiaha.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rizkiaha.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rizkiaha.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rizkiaha.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rizkiaha.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rizkiaha.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rizkiaha.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rizkiaha.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rizkiaha.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rizkiaha.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rizkiaha.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rizkiaha.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rizkiaha.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rizkiaha.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkiaha.wordpress.com&amp;blog=8830387&amp;post=59&amp;subd=rizkiaha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/09/17/penghapusan-pembukaan-uud-45/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afcff417661c298ea5acf24a7c0767fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kita bukan Lawan ~Untuk Mahalum dan BEM UI</title>
		<link>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/28/kita-bukan-lawan-untuk-mahalum-dan-bem-ui/</link>
		<comments>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/28/kita-bukan-lawan-untuk-mahalum-dan-bem-ui/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 18:52:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizki Abinul Hakim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rizkiaha.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Jika Tuan anggap dengan beku, Mereka akan diam Tuan salah Mereka akan anggap Tuan lebih buruk dan lidah Mereka, semakin menyala-nyala Tuan benar, Mereka salah Tapi bukan dengan beku, Tuan Bukan dengan beku Karena dengan beku Tuan suruh Mereka diam Dengan beku Tuan suruh Mereka tidak berpikir Tuan, Bukankah masa mereka, masa boleh berbuat salah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkiaha.wordpress.com&amp;blog=8830387&amp;post=55&amp;subd=rizkiaha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika Tuan anggap dengan beku, Mereka akan diam<br />
Tuan salah</p>
<p>Mereka akan anggap Tuan lebih buruk<br />
dan lidah Mereka, semakin menyala-nyala</p>
<p>Tuan benar, Mereka salah<br />
Tapi bukan dengan beku, Tuan<br />
Bukan dengan beku<br />
<span id="more-55"></span><br />
Karena dengan beku<br />
Tuan suruh Mereka diam</p>
<p>Dengan beku<br />
Tuan suruh Mereka tidak berpikir</p>
<p>Tuan,<br />
Bukankah masa mereka, masa boleh berbuat salah ?<br />
Dan beku, hanya membenar tindakan<br />
Yang mereka kira heroik itu</p>
<p>Mereka masih muda Tuan,<br />
Biarkan mereka salah</p>
<p>Dan mereka perlu salah Tuan<br />
Agar kita, saya dan Tuan, kasih tau mereka salah</p>
<p>Agar setelah salah,<br />
Mereka pegang itu kebenaran, kuat-kuat</p>
<p>Tapi bukan dengan beku, Tuan<br />
Bukan dengan beku</p>
<p>Dengan beku<br />
Kemarin sore, mereka anggap Tuan seorang Tua<br />
Pagi ini, mereka anggap Tuan seorang Musuh</p>
<p>Tua menolerir, mengoreksi<br />
Musuh menggebuk, membekukan</p>
<p>Dengan beku, Tuan<br />
Mereka pikir, mereka benar<br />
Lalu tuli akan koreksi</p>
<p>Dan Tuan, apa yang lebih salah ?<br />
Dari kebenaran tanpa koreksi,<br />
Dari kebenaran tanpa diskusi.<br />
Baik dari Tuan<br />
Maupun dari Mereka</p>
<p>Kawan menolerir, mengoreksi,<br />
Berdiskusi..</p>
<p>Lawan menggebuk, membekukan<br />
Lalu, selebihnya, Tuli</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rizkiaha.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rizkiaha.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rizkiaha.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rizkiaha.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rizkiaha.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rizkiaha.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rizkiaha.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rizkiaha.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rizkiaha.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rizkiaha.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rizkiaha.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rizkiaha.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rizkiaha.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rizkiaha.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkiaha.wordpress.com&amp;blog=8830387&amp;post=55&amp;subd=rizkiaha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/28/kita-bukan-lawan-untuk-mahalum-dan-bem-ui/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afcff417661c298ea5acf24a7c0767fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seorang Kawan, Si Anak Elang</title>
		<link>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/18/seorang-kawan-si-anak-elang/</link>
		<comments>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/18/seorang-kawan-si-anak-elang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 15:38:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizki Abinul Hakim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rizkiaha.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Kawan, kita tahu, tidak ada legenda yang hidup, dan nyaman, di satu tempat. Kita ingat Che, Soros, Tan Malaka, atau legenda lain yang bisa kita baca di biografi lusuh atau rapi berplastik. Rasanya, tidak ada satu pun yang hidup nyaman, di satu tempat, pada masa mudanya. Mereka perlu pergi, mungkin ke Amsterdam, mungkin ke tempat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkiaha.wordpress.com&amp;blog=8830387&amp;post=52&amp;subd=rizkiaha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kawan, kita tahu, tidak ada legenda yang hidup, dan nyaman, di satu tempat.<br />
Kita ingat Che, Soros, Tan Malaka, atau legenda lain yang bisa kita baca di biografi lusuh atau rapi berplastik. Rasanya, tidak ada satu pun yang hidup nyaman, di satu tempat, pada masa mudanya.<br />
Mereka perlu pergi, mungkin ke Amsterdam, mungkin ke tempat lain.<br />
<span id="more-52"></span><br />
Tapi mungkin, kita tidak perlu jadi legenda, yang hidupnya amat melelahkan itu.<br />
Namun, saat Tuhan beri pilihan, jadi ayam atau elang, mengapa pilih ayam ?<br />
Untuk berputar-putar sekitar kandang, mematuk-matuk pada pagi-siang-sore, kembali ke kandang, lalu bertelur untuk diambil ?<br />
Si ayam, pada akhirnya, berakhir di sebilah pisau dapur: digorok, dipotong-potong, untuk disantap di meja makan.<br />
Bagian terburuknya, semua keturunan bernasib sama: dieksploitasi oleh kekuatan yang tidak ayam mengerti.</p>
<p>Jika Tuhan beri pilihan, kita tidak boleh menjadi &#8220;ayam&#8221;.<br />
Para mediocre yang puas dengan hidup, tapi tidak pernah bersyukur dengan bagian dan pekerjaannya. Terus mematuk-merutuk, pagi-siang-sore, mengisi tembolok-gondok.<br />
Para mediocre yang nyaman dengan hidup lalu berakhir dieksploitasi tuan.</p>
<p>Kawan, kita, berharap jadi legenda.<br />
Mereka yang tahu di mana tempat hidupnya. Mungkin tidak selalu di atas, bisa juga di toilet, tapi selalu dengan dedikasi. Penjaga toilet yang menggosok kuat-kuat lantai pispot hingga terkenal bersih, melegenda.</p>
<p>Kita berharap jadi elang, kawan.<br />
Elang yang tahu, meski sarangnya hangat dan nyaman, ia harus terbang juga.<br />
Mungkin ke Amsterdam. Mungkin ke tempat lain.</p>
<p>Dan kawan, seperti kita, semua legenda punya rasa takut.<br />
Toh Che harus merunduk juga saat ditembak tentara Batista.<br />
Ia toh menyerah hidup-hidup, untuk dieksekusi, di Bolivia.</p>
<p>Kita punya takut kawan,<br />
Tapi, seperti elang, kita tahu peran kita.<br />
Tanggung jawab bukan soal diri sendiri, tapi, terutama, untuk bangsa ini.<br />
Cukup tak cukup, itu harus cukup untuk menghapus takut.</p>
<p>Dan kawan, tidak ada legenda yang terlalu banyak bermain.<br />
Mungkin, 30an tahun lalu, saat si Boy, Catatannya, dan sutradara Nasri Cheppy membuat film,<br />
kalimat “baru pulang dari sekolah di Amerika” cukup membuat lunglai lutut Tante berkonde dan Om berkumis yang berharap jadi mertua.<br />
Tapi si Boy tidak lebih dari si Emon, yang terlalu banyak bermain-main.<br />
Dan sekarang, kalimat seperti itu akan menjadi bahan lelucon dan mengundang pertanyaan “apa hasilnya?”.</p>
<p>Namun kawan, legenda juga melakukan salah.<br />
Sumitro ikut PRRI. Che dan Castro mengeksekusi ratusan, mungkin ribuan, orang.<br />
Martin Luther King Jr bermain perempuan. Semua legenda melakukan kesalahan. Mungkin terlalu bersemangat, atau sebaliknya, kelelahan dengan hidup.</p>
<p>Kita, juga akan melakukan kesalahan.<br />
Mungkin di Amsterdam, atau di tempat lain.<br />
Dan itu hal biasa, dalam proses menjadi dewasa. Kesalahan, yang diambil pelajaran, jauh lebih baik daripada keraguan dan pilihan diam untuk mencari aman.<br />
Toh kita bukan ayam, pencari aman, yang takut jauh-jauh dari kandang.</p>
<p>Dan kawan, kita diberi banyak pilihan baik.<br />
Tuhan menjauhkan dari lingkungan dan nasib buruk.<br />
Tidak seperti Yeyen, yang kawin muda, sakit hati ditinggal suami, lalu menjadi pelacur di Saritem. Pada tanggal-tanggal ini, ia menaikkan harga, 50 ribu, untuk persiapan puasa dan lebaran.<br />
Kita juga tidak pula menjadi Anto, yang berbapak pemabuk dan berIbu-entahlah. Pada masa-masa ini, ia hanya punya pilihan untuk menyetir truk menyusuri Pantura, dan kadang mampir ke tempat Yeyen.<br />
Kita, pada saat-saat ini, diberi banyak pilihan baik oleh Tuhan.<br />
Mungkin ke Amsterdam, atau ke tempat lain, yang kelak ditanyakan Nya.</p>
<p>Dan kawan, pada akhirnya, sebuah harapan.<br />
Satu saat, perut-perut kosong dan tarikan napas-napas sekarat di negeri ini akan menggugat peran kita. Bukan karena janji atau budi.<br />
Tapi karena takdir peran kita.</p>
<p>Betul kawan, kita akan menjumpai banyak suara sinis.<br />
&#8220;Masih muda dan idealis, saya juga dulu begitu&#8221; kata bapak-bapak tua di kantor kabupaten sambil menghembuskan asap rokok.<br />
Dan kita paham, mengapa ia berada di sana, bersiap untuk pulang pada jam 3 siang, dan meminta 15 ribu di bawah pengumuman &#8220;Tidak dipungut Bayaran&#8221;.</p>
<p>Kita paham, seperti kata Rivai yang mengutip Prof Treub pada &#8220;Orang Indonesia di Negeri Belanda (1600 &#8211; 1950)&#8221;, dan ditulis ulang oleh Poeze:<br />
&#8220;Seorang anak muda yang tidak menjadi sosialis merah pada masa muda, pada masa tuanya tidak akan menjadi apa-apa&#8221;, seperti pak tua di kantor kabupaten.</p>
<p>Pergilah kawan, si anak elang.<br />
Dan seperti kata Mac Arthur, 1962, di hadapan taruna West Point yang tegap-tegap itu:<br />
&#8220;Duty, Honor, Country&#8221;<br />
Those three hallowed words, reverently dictate:<br />
What you ought to be,<br />
What you can be,<br />
What you will be,</p>
<p>They are your rallying points to build courage, when courage seems to fail,<br />
To regain faith, when there seems to be little cause for faith,<br />
To create hope, when hope becomes forlorn.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rizkiaha.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rizkiaha.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rizkiaha.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rizkiaha.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rizkiaha.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rizkiaha.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rizkiaha.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rizkiaha.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rizkiaha.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rizkiaha.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rizkiaha.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rizkiaha.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rizkiaha.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rizkiaha.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkiaha.wordpress.com&amp;blog=8830387&amp;post=52&amp;subd=rizkiaha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/18/seorang-kawan-si-anak-elang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afcff417661c298ea5acf24a7c0767fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>sebuah titik</title>
		<link>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/10/47/</link>
		<comments>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/10/47/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 07:05:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizki Abinul Hakim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/10/47/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang ibu miskin, yang anaknya sekarat dan terancam mati, rasanya lebih penting dari pemegang obligasi negara yang dijanjikan yield. Tapi kita tahu, dunia tidak sesederhana itu. Tapi, apa rumit dan apa sederhana pada APBN 2009? Pilihan rumit, saat kita menolak membayar bunga utang. Dengan pemegang obligasi yang memiliki kekuatan besar: sederetan advokat dan lobbyist yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkiaha.wordpress.com&amp;blog=8830387&amp;post=47&amp;subd=rizkiaha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang ibu miskin, yang anaknya sekarat dan terancam mati, rasanya lebih penting dari pemegang obligasi negara yang dijanjikan yield. Tapi kita tahu, dunia tidak sesederhana itu.<br />
<span id="more-47"></span><br />
Tapi, apa rumit dan apa sederhana pada APBN 2009?<br />
Pilihan rumit, saat kita menolak membayar bunga utang. Dengan pemegang obligasi yang memiliki kekuatan besar: sederetan advokat dan lobbyist yang siap membela kepentingan mereka, media yang berada dalam kendali, dan paradigma tim ekonomi yang memegang teguh “rating obligasi dan kredibilitas negara dalam pembayaran utang”. Karena kerumitan itu, kita memilih membayar Rp 109,5 triliun, hampir 11 persen dari APBN, untuk pembayaran bunga utang, yang bahkan tidak mengurangi utang.</p>
<p>Pilihan mudah, saat kita memilih untuk sedikit melupakan orang-orang lemah yang sakit. Toh mereka tidak memiliki siapa-siapa untuk membela kepentingannya. Tanpa ribut-ribut, mereka bisa sekarat dan pelan-pelan mati tanpa pelayanan kesehatan memadai. Jumlahnya pun tak perlu repot-repot dimasukkan ke data statistik. Mudah. Dan kita hanya perlu mengeluarkan 2,1 persen dari APBN untuk dana kesehatan, jauh dari standar WHO yang minimum 15 persen.</p>
<p>Sebuah logika sederhana. Saat tim ekonomi kita sangat menjunjung “kredibilitas pemerintah dalam membayar bunga utang” maka kita akan melupakan “kredibilitas pemerintah dalam menjamin kesehatan rakyat”. Kita patuh membayar bunga utang, lima kali lebih besar dari anggaran kesehatan.</p>
<p>Padahal, salah satu alasan kita berutang banyak hingga terperangkap dengan bunga utang (yield obligasi negara) adalah juga karena paradigma tim ekonomi yang mempercayai perlunya stimulus fiskal dalam menghadapi krisis global.</p>
<p>Setahun lalu, kita masih boleh percaya bahwa stimulus fiskal memang dibutuhkan negeri ini. Seperti yang secara implisit dikatakan Keynes (1936) pada The General Theory of Employment, Interest, and Money: saat terjadi depresi ekonomi, pemerintah harus melakukan ekspansi fiskal untuk menaikkan permintaan total dan memicu kembali perekonomian yang lesu, tidak peduli darimana uangnya.</p>
<p>Jika perlu, menurut Keynes, pemerintah harus berutang, banyak-banyak, agar mendapatkan uang untuk membiayai ekpansi fiskal tersebut. Atas dasar ini maka diterbitkan obligasi negara, sialnya dengan bunga tinggi, agar defisit APBN akibat pembiayaan ekspansi fiskal tertutupi.</p>
<p>Namun, stimulus fiskal sendiri telah dinyatakan gagal terealisasi(sampai akhir Juni stimulus fiskal non pajak baru terserap 2 persen, dan stimulus fiskal PPH 21 baru terserap 8 persen). Dan pada pertengahan Juli, anggaran belanja barang dan modal baru terpakai 30 persen. Dengan kedua fakta tersebut, kegagalan stimulus fiskal dan kebijakan fiskal, nyatanya kinerja makroekonomi 2009 masih cukup baik.</p>
<p>Oleh karenanya, sebuah gugatan mendasar patut diungkapkan : Jika utang tidak digunakan, dan ternyata keadaan baik-baik saja, untuk apa negara ini berhutang banyak-banyak ?</p>
<p>Hanya untuk sebuah kepercayaan akan paradigma Keynes yang mengadvokasi ekspansi fiskal besar-besaran saat krisis ? Atau, untuk sebuah penolakan terhadap invisible hand Adam Smith yang mengadvokasi ketiadaan peran pemerintah saat krisis ?</p>
<p>Rasanya kita tidak pernah tahu. Tapi kita tahu: pendidikan tinggi para ahli ekonomi pemerintah seharusnya tidak membatasi kerangka berpikir mereka yang mengadopsi teori dari negara lain dengan melupakan kondisi negara ini. Bukan kah Keynes sendiri melawan rasionalitas dasar, bahwa saat krisis sudah sepantasnya negara berhati-hati dan menghemat. Usaha Keynes pada tujuh dekade lalu hanya merupakan sebuah ijtihad temporer yang tidak bisa diambil mentah-mentah untuk saat ini.</p>
<p>Tapi toh kesalahan paradigma yang satu biasanya diikuti oleh kesalahan paradigma lainnya. Meski “stimulus fiskal atas krisis” terbukti gagal, tim ekonomi pemerintah masih teguh memegang “kredibilitas pemerintah dalam membayar bunga utang”. Dan pada akhirnya, APBN harus menanggung pembayaran bunga utang yang lima kali lebih besar dari anggaran untuk kesehatan.</p>
<p>Negara ini sudah merdeka 64 tahun, namun sejarahnya masih menunjukkan pola ketidakadilan tanpa sadar. Kebanyakan rakyat, yang tidak pernah berspekulasi, masih harus mengantri, sangat lama, di puskesmas dan RSUD, yang ramainya seperti di stasiun dan terminal. Mereka menunggu untuk diperiksa oleh dokter bermuka muram yang kelelahan dan sembarangan mendiagnosis.</p>
<p>Sementara itu, para pemegang obligasi negara, yang sebagian turut menciptakan krisis global, dapat menikmati yield yang tinggi, tanpa resiko, dan tanpa melakukan apa-apa.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rizkiaha.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rizkiaha.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rizkiaha.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rizkiaha.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rizkiaha.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rizkiaha.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rizkiaha.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rizkiaha.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rizkiaha.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rizkiaha.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rizkiaha.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rizkiaha.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rizkiaha.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rizkiaha.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkiaha.wordpress.com&amp;blog=8830387&amp;post=47&amp;subd=rizkiaha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/10/47/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afcff417661c298ea5acf24a7c0767fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kejadian konyol di Studio Foto dan Konflik antar Kelas Marx</title>
		<link>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/03/kejadian-konyol-di-studio-foto-dan-konflik-antar-kelas-marx/</link>
		<comments>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/03/kejadian-konyol-di-studio-foto-dan-konflik-antar-kelas-marx/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 07:13:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizki Abinul Hakim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rizkiaha.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Syahdan, eyang Marx bercerita bahwa salah satu konflik yang cukup panjang itu adalah perjuangan kelas antara Buruh dengan Pengusaha, bukan kancil vs petani. Tapi, eyang Marx harusnya menambahkan, jika konflik pengusaha vs buruh bisa merembet ke konflik Pelanggan vs Buruh. Malam ini, dengan menyerahkan file beserta pesan bahwa file perlu dicrop, gue membuat pas foto [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkiaha.wordpress.com&amp;blog=8830387&amp;post=44&amp;subd=rizkiaha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syahdan, eyang Marx bercerita bahwa salah satu konflik yang cukup panjang itu adalah perjuangan kelas antara Buruh dengan Pengusaha, bukan kancil vs petani. Tapi, eyang Marx harusnya menambahkan, jika konflik pengusaha vs buruh bisa merembet ke konflik Pelanggan vs Buruh.<br />
<span id="more-44"></span><br />
Malam ini, dengan menyerahkan file beserta pesan bahwa file perlu dicrop, gue membuat pas foto di sebuah studio.<br />
Setelah gue menunggu selama setengah jam dengan berkeliling pasar, gue pun mengambil hasil print tersebut.</p>
<p>Rupanya terdapat sebuah kesalahan, yang juga disadari oleh kasir, hasil pas fotonya benar-benar muka saja, hampir tanpa badan.<br />
Tanpa diminta, si kasir pun mengkonfirmasi ke teknisi lab. Gue sempat melihat si teknisi menjawab si kasir dengan gesture dan muka orang malas.</p>
<p>(K) Kasir: &#8220;Nggak bisa Mas kata teknisinya, kalo di-crop hasilnya emang kayak gini&#8221;<br />
(G) Gue: &#8220;Nggak bisa gimana ya mbak, di tempat lain aja bisa kok, saya pernah.<br />
Lagian pas foto apaan mukanya doang&#8221;<br />
(K)&#8221;Coba saya tanya lagi&#8221;<br />
(Gue agak kasian sama si kasir dan agak dongkol juga sama teknisinya)</p>
<p>(K) &#8220;Tetep nggak bisa Mas&#8221;<br />
(G) &#8220;Mana sini, saya editin deh&#8221;</p>
<p>Gue, yang lagi baik, berkeinginan mengajarkan etos &#8220;kerjakan sampai bisa&#8221; kepada teknisi pemalas tersebut. Padahal dalam keadaan normal, gue langsung meminta uang dikurangi dari kesalahan print foto, dan pergi ke tempat lain.<br />
-Masuk ke ruang lab-</p>
<p>(T) Teknisi: EMANG GA BISA KOK (dengan suara tinggi)<br />
(G) Ga mungkin ga bisa, kamu nih gimana sih, ga boleh nyalahin customer (sambil mengedit)<br />
(T) Emang kenapa ga boleh ?<br />
(G) (Istigfar dalam hati sambil menahan kepalan tangan sambil terus menemukan cara untuk mengedit, maklum ga bisa adobe)</p>
<p>(T) EMANG GA BISA KAN ! (dalam sela-sela gue mengedit, seolah-olah gue mau ubah batu jadi emas)</p>
<p>(G) Nih liat, BISA kan, kamu resize dulu baru crop.<br />
(T) YAAH LAGIAN, tadi perintahnya crop doang, bukan resize.<br />
(G) YA ALLAH YA ROBBI !!! (Alhamdulillah masih bisa keluar teriakan baik)</p>
<p>(G) Mas, di mana-mana namanya pas foto ga mungkin mukanya doang.<br />
Lagian saya yakin, kamu bisa belajar.<br />
(T) Tapi tadi perintahnya crop aja<br />
(G) Kamu ini orang apaan sih, ngerjain yang diperintahin doang, ga make logika.<br />
Udah berapa lama sih kerja ??<br />
(kasian juga sih. Orangnya masih muda, seumuran gue, tapi sudah tidak<br />
berkembang)</p>
<p>(G) Udah deh mas, saya ga jadi printnya, capek.<br />
(T) Saya juga, capek!</p>
<p>Habis sudah pertahanan kesabaran yang gue bangun.</p>
<p>(G) SAYA CAPEK, KAMU GA BISA DAN GA MAU DIAJARIN, KAMU ITU BUKANNYA GA BISA, TAPI T.O.L.O.L, NGERTI GA ? TOLOL !!!<br />
(bersiap konfrontasi fisik tapi tidak terjadi)</p>
<p>(G) Pergi ke kasir, dan berbicara baik-baik ke kasir tersebut meminta uang dikembalikan.</p>
<p>Kembali ke konteks konflik kelas.<br />
Di satu sisi, personal si teknisi, mari kita pahami bahwa di dunia selalu ada orang-orang mediocre yang merasa bahwa &#8220;ini bukan tempat gue kerja&#8221; sehingga sulit untuk maju dan bertingkah seperti si teknisi di atas. Padahal, orang seperti itu memang tidak pantas kerja di mana-mana karena habit &#8220;setengah-setengah&#8221; mereka saat bekerja.</p>
<p>Tapi di sisi lain, sisi sistem, saya mencoba memaklumi bahwa si teknisi memang sudah terlalu capek bekerja pada Ahad malam. Saat di mana mungkin sedang terjadi &#8220;ekstraksi surplus&#8221; menurut eyang Marx.</p>
<p>Untuk me-refresh pengetahuan, secara sederhana terdapat empat balas jasa faktor produksi: profit untuk pengusaha, upah untuk buruh, sewa untuk tanah, dan bunga untuk modal.<br />
Konflik antar kelas dimulai karena desain balas jasa tersebut. Sementara upah buruh bersifat tetap, profit bersifat fleksibel (sebesar-besarnya atau sekecil-kecilnya) karena resiko yang ditanggung oleh pengusaha.</p>
<p>Konflik tersebut, secara sederhana, terjadi karena:<br />
pengusaha bisa sewenang-wenang menentukan besaran upah sangat rendah untuk sebuah pekerjaan tertentu.<br />
Atau sewenang-wenang menentukan beban pekerjaan sangat banyak dengan upah tertentu.</p>
<p>Pengusaha dalam hal ini mengabaikan kontribusi buruh terhadap besaran profit yang pengusaha terima. Pengusaha bisa menyuruh si teknisi kerja pada Ahad malam, tanpa tambahan insentif, dengan ancaman dipecat jika tidak datang.<br />
Dan mungkin, sampai sekarang, konflik itu memang tidak selesai-selesai (kurang ukhuwah mungkin) hingga timbullah konflik kelas baru:<br />
Kelas Pelanggan vs Kelas Buruh</p>
<p>Yaah, daripada sistem komunalnya Mao. Digaji aja males, apalagi disuruh kerja terus dikasih kupon makanan sama dicekokin doktrin. Mana mungkin hari Ahad ada studio foto buka.</p>
<p>Nb: Jgn coba-coba bilang &#8220;makanya, coba ekonomi syariah&#8230;&#8221;,<br />
Lha wong desain instrumen balas jasa di teori produksi ekonomi syariah sama persis dengan kapitalis jee&#8230;</p>
<p>-Kaum Pelanggan Sedunia Bersatulah-</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rizkiaha.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rizkiaha.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rizkiaha.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rizkiaha.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rizkiaha.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rizkiaha.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rizkiaha.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rizkiaha.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rizkiaha.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rizkiaha.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rizkiaha.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rizkiaha.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rizkiaha.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rizkiaha.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkiaha.wordpress.com&amp;blog=8830387&amp;post=44&amp;subd=rizkiaha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/03/kejadian-konyol-di-studio-foto-dan-konflik-antar-kelas-marx/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afcff417661c298ea5acf24a7c0767fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Political Business Cycle: Tesis Penggunaan BIN menjelang Pemilu dan Bom Kuningan</title>
		<link>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/01/political-business-cycle-tesis-penggunaan-bin-menjelang-pemilu-dan-bom-kuningan/</link>
		<comments>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/01/political-business-cycle-tesis-penggunaan-bin-menjelang-pemilu-dan-bom-kuningan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 20:36:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizki Abinul Hakim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rizkiaha.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[The only thing we have to fear is fear itself” ungkap Franklin D. Roosevelt pada pidato inaugurasinya. Tidak hanya mengatasi Great Depression, dengan keberaniannya, pemimpin AS tersebut juga membawa bangsanya memenangkan Perang Dunia II. Maka kita patut heran, dengan sebagian isi pidato Presiden pasca Bom Kuningan. Berdasarkan informasi intelijen, pemimpin bangsa ini justru mengungkapkan ancaman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkiaha.wordpress.com&amp;blog=8830387&amp;post=37&amp;subd=rizkiaha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The only thing we have to fear is fear itself” ungkap Franklin D. Roosevelt pada pidato inaugurasinya. Tidak hanya mengatasi Great Depression, dengan keberaniannya, pemimpin AS tersebut juga membawa bangsanya memenangkan Perang Dunia II.<br />
<span id="more-37"></span><br />
Maka kita patut heran, dengan sebagian isi pidato Presiden pasca Bom Kuningan. Berdasarkan informasi intelijen, pemimpin bangsa ini justru mengungkapkan ancaman terhadap dirinya. Sebagian kita bertanya: apakah ini sebuah pengalihan isu, dari sentimen anti asing ke sentimen anti SBY (yang mungkin lebih baik), atau buah hasil intelijen negara yang rapuh ?</p>
<p>Karl Marx (1818-1883), Kalecki (1943), serta Minford dan Peel (1982) mengembangkan sebuah teori, political business cycle. Teori tersebut berhipotesis bahwa menjelang pemilihan umum, pemerintah berkuasa akan menggunakan sumber daya negara -dalam hal ini instrumen fiskal dan moneter- untuk melakukan kebijakan ekonomi populis agar terpilih kembali.</p>
<p>Namun, “kebijakan agar terpilih kembali” tersebut berbahaya, setidaknya, karena dua hal. Pertama, stabilitas ekonomi jangka panjang dikorbankan (seperti potensi inflasi karena peredaran uang besar-besaran via BLT dan gaji ke 13). Kedua, sumber daya negara yang terbatas itu, seharusnya dapat digunakan untuk kebijakan yang lebih efektif namun tidak populis.</p>
<p>Pada konteks kontemporer, political business cycle dapat menjadi sebuah dasar untuk menjelaskan fenomena penggunaan sumber daya negara oleh incumbent agar terpilih kembali yang mengorbankan efektivitas sebuah instansi pemerintah.</p>
<p>Kaitannya dengan Bom Kuningan, teori political business cycle dapat menjadi dasar sebuah tesis: Pada saat pemilu lalu, Pemerintahan SBY lebih banyak menggunakan intelijen negara untuk mendukung “semacam kebijakan agar terpilih kembali” dengan mengorbankan sumber daya intelijen untuk tugas lain.</p>
<p>Dengan kata lain, menjelang pemilihan umum lalu BIN pimpinan Syamsir Siregar yang memiliki tugas pencegahan, penangkalan dan atau penanggulangan ancaman terhadap keamanan nasional, lebih banyak mengawasi dan mencegah ancaman terhadap pemerintahan SBY, daripada mengawasi dan mencegah aksi teroris.</p>
<p>Di satu sisi, tesis tersebut memang tidak memiliki kesempatan untuk dibuktikan melalui data. Bagaimana pun, tidak terdapat akses informasi bagaimana sumber daya BIN dialokasikan untuk menangkal ancaman terhadap masyarakat dan atau mengawasi ancaman terhadap SBY. Namun di sisi lain, tesis tersebut didukung oleh logika sederhana yang dapat diketahui oleh siapapun.</p>
<p>Pertama, selama ini belum terdapat batas yang jelas, sampai sejauh mana ancaman terhadap kelanggengan pemerintahan berkuasa dikategorikan sebagai ancaman terhadap negara. Penangkapan Rizal Ramli, dengan tuduhan penggalangan demonstrasi anti SBY, merupakan sebuah contoh: belum terdapat batas yang jelas, sampai sejauh mana instrumen negara dapat digunakan untuk mengeliminir ancaman terhadap pemerintahan berkuasa.</p>
<p>Kedua, berlawanan dengan sifat ideal pimpinan badan intelijen, BIN dipimpin oleh Syamsir Siregar yang sangat partisan secara politis kepada SBY (Syamsir anggota tim sukses SBY tahun 2004).<br />
Sifat politis partisan ini berbahaya, karena tanpa adanya batas yang jelas, seperti yang diungkapkan sebelumnya, sumber daya BIN dapat dipakai secara berlebihan untuk mengamankan kelanggengan pemerintahan berkuasa.</p>
<p>Secara sederhana, tradisi pergantian Kepala BIN -apabila terjadi pergantian pemerintahan- telah memberikan insentif personal kepada Syamsir Siregar untuk menggunakan sumber daya BIN agar tidak terjadi pergantian pemerintahan. Oleh karenanya di negara lain, terjadi tentangan dan kritik tajam oleh Senat AS terhadap pengangkatan Porter J. Goss, Direktur CIA 2004-2005, yang &#8220;sedikit partisan&#8221; kepada Republik.</p>
<p>Terakhir, tesis tersebut justru didukung oleh isi pidato Presiden pasca pemboman Kuningan.<br />
Dengan jelas, beliau hanya mendapatkan pasokan intelijen mengenai ancaman dirinya, bukan mengenai aktivitas pelaku teror pra pemboman. Dari sini dapat terlihat bahwa, seolah-olah, BIN memang tidak melakukan kerjanya untuk mengeliminir ancaman terhadap masyarakat, karena sibuk mengawasi ancaman terhadap pemerintahan SBY.</p>
<p>Pengungkapan data intelijen itu, yang seperti kata Presiden, &#8220;bukan rumor, bukan isu, dan bukan gosip&#8221; membawa kembali kepada sebuah tesis :</p>
<p>Bom Kuningan bisa terjadi karena kelalaian pemerintahan SBY,<br />
yang lebih banyak menggunakan sumber daya BIN untuk menangkal ancaman terhadap pemerintahan berkuasa,<br />
daripada menangkal musuh masyarakat secara nyata (teroris).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rizkiaha.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rizkiaha.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rizkiaha.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rizkiaha.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rizkiaha.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rizkiaha.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rizkiaha.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rizkiaha.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rizkiaha.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rizkiaha.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rizkiaha.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rizkiaha.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rizkiaha.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rizkiaha.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkiaha.wordpress.com&amp;blog=8830387&amp;post=37&amp;subd=rizkiaha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/01/political-business-cycle-tesis-penggunaan-bin-menjelang-pemilu-dan-bom-kuningan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afcff417661c298ea5acf24a7c0767fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Terlupakannya nyawa 14 orang Indonesia seharga Rp 25 juta</title>
		<link>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/01/terlupakannya-nyawa-14-orang-indonesia-seharga-rp-25-juta/</link>
		<comments>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/01/terlupakannya-nyawa-14-orang-indonesia-seharga-rp-25-juta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 20:35:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizki Abinul Hakim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rizkiaha.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Ahad lalu, 14 orang tewas dalam sebuah kecelakaan di perlintasan kereta tanpa palang di Klaten. Pada tahun ini, entah sudah berapa puluh, atau mungkin ratus, nyawa hilang di perlintasan kereta sejenis. Dan entah sudah berapa ribu nyawa yang harus dikorbankan pada perlintasan kereta tanpa palang sejak kita menyatakan merdeka, dan percaya bahwa pemerintah negara ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkiaha.wordpress.com&amp;blog=8830387&amp;post=35&amp;subd=rizkiaha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ahad lalu, 14 orang tewas dalam sebuah kecelakaan di perlintasan kereta tanpa palang di Klaten. Pada tahun ini, entah sudah berapa puluh, atau mungkin ratus, nyawa hilang di perlintasan kereta sejenis. Dan entah sudah berapa ribu nyawa yang harus dikorbankan pada perlintasan kereta tanpa palang sejak kita menyatakan merdeka, dan percaya bahwa pemerintah negara ini kita bentuk dengan tujuan melindungi segenap rakyatnya.<span id="more-35"></span></p>
<p>Kita mungkin tak akan pernah bisa paham, mengapa tidak ada satu pun “suara kuat” yang mempertanyakan: bagaimana perlintasan kereta -yang perlu ditambah palang- dibiarkan merenggut nyawa, secara tak perlu, berulang-ulang. Mengapa tidak ada “suara kuat” yang berjanji: mewajibkan PT KAI atau siapapun itu untuk memasang palang di setiap perlintasan kereta, setelah 14 nyawa lagi terenggut.</p>
<p>Mungkin karena “suara kuat” itu, atau suara kita sendiri, memaklumi bahwa sopir bus 14 nyawa tewas itu lah yang ceroboh, tanpa pernah paham dan bertanya mengapa setiap bulan selalu ada orang seperti itu. Atau mungkin, “suara kuat” itu berada di Jakarta, yang setiap perlintasan keretanya selalu dipasangi palang, sehingga tak dapat memahami apa rasa derita korban kecelakaan di perlintasan tanpa palang. </p>
<p>Atau, karena kita mahfum bahwa memasangi palang dan mengupah penjaganya itu mahal, tanpa benar pernah membandingkan dengan berapa biaya produktivitas -nyawa dan cacat- yang terbuang di perlintasan itu. Hal ini, seperti thesis Bent Flyvbjerg, Mette K. Skamris Holm, dan Soren L. Buhl (2005), adalah “kegagalan pembuat kebijakan dalam mengidentifikasi biaya dan manfaat secara benar” sehingga membuat sebuah kebijakan penting -seperti kewajiban pembuatan palang kereta- urung dilakukan. </p>
<p>Atau mungkin, korban perlintasan kereta itu yang dihargai murah: toh mereka tak mampu membuat “suara kuat” bersuara.</p>
<p>Yang pasti mereka, 14 korban tewas dan keluarganya, adalah orang-orang lemah yang kematiannya cukup dihargai 25 juta rupiah oleh asuransi. Dan tragedi pada hari Ahad tersebut segera terlupakan oleh bangsa ini pada Selasa menjelang pemilihan presiden, tanpa ada “suara kuat” yang bertanya: perlu berapa banyak nyawa hilang, sehingga kita mengharamkan sebuah perlintasan kereta tanpa palang ?</p>
<p>Suara-suara kuat yang diamanahkan untuk melindungi rakyat bangsa ini, mungkin terlalu lelah bekerja, tanpa pamrih tentunya, mengurus kebesaran pemilihan pemimpin bangsa ini. Dan seperti kata seorang penulis yang gemar mencemooh: “Musuh kebesaran adalah hal-hal kecil penting yang terlupakan”.</p>
<p>&#8230;and if any one saved a life, it would be as if he saved the life of the whole people&#8230;<br />
(al-Quran, 5:32)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rizkiaha.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rizkiaha.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rizkiaha.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rizkiaha.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rizkiaha.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rizkiaha.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rizkiaha.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rizkiaha.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rizkiaha.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rizkiaha.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rizkiaha.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rizkiaha.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rizkiaha.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rizkiaha.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkiaha.wordpress.com&amp;blog=8830387&amp;post=35&amp;subd=rizkiaha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/01/terlupakannya-nyawa-14-orang-indonesia-seharga-rp-25-juta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afcff417661c298ea5acf24a7c0767fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Para&#8217;s Prayer</title>
		<link>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/01/paras-prayer/</link>
		<comments>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/01/paras-prayer/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 20:34:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizki Abinul Hakim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rizkiaha.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Give me, God, what no one asks for; I do not ask for wealth Nor for success, nor even health- People ask you too often, God, for all that Give me, God, what no one asks for; Give me what people refuse to accept from you. I want insecurity and disquietude, i want turmoil and [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkiaha.wordpress.com&amp;blog=8830387&amp;post=33&amp;subd=rizkiaha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Give me, God, what no one asks for;<br />
I do not ask for wealth<br />
Nor for success, nor even health-<br />
People ask you too often, God, for all that</p>
<p>Give me, God, what no one asks for;<br />
Give me what people refuse to accept from you.</p>
<p>I want insecurity and disquietude,<br />
i want turmoil and brawl,</p>
<p>And if you should give them to me, my God,<br />
Once and for all</p>
<p>Let me be sure to have them always,<br />
For i will not always have the courage<br />
To ask you for them</p>
<p>-Modification Para&#8217;s Prayer-</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rizkiaha.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rizkiaha.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rizkiaha.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rizkiaha.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rizkiaha.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rizkiaha.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rizkiaha.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rizkiaha.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rizkiaha.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rizkiaha.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rizkiaha.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rizkiaha.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rizkiaha.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rizkiaha.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkiaha.wordpress.com&amp;blog=8830387&amp;post=33&amp;subd=rizkiaha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/01/paras-prayer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afcff417661c298ea5acf24a7c0767fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tribute to Dosen-Dosen Liberal di FEUI</title>
		<link>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/01/tribute-to-dosen-dosen-liberal-di-feui/</link>
		<comments>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/01/tribute-to-dosen-dosen-liberal-di-feui/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 20:32:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizki Abinul Hakim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rizkiaha.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Ada teman yang bilang bahwa kampus saya adalah penyebar ajaran liberal. Ajaran yang kemudian menyengsarakan berjuta rakyat negeri ini. Berbusa dan semangat ia berbicara, mencela-cela. Tidak lupa, ia mengangkat kerakyatan yang selama ini diajarkan oleh kampusnya. Lalu, saya bertanya: (+) Baik lah teman, seandainya ekonomi itu hanya ada dua, liberal dan kerakyatan, kau pilih apa? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkiaha.wordpress.com&amp;blog=8830387&amp;post=31&amp;subd=rizkiaha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada teman yang bilang bahwa kampus saya adalah penyebar ajaran liberal. Ajaran yang kemudian menyengsarakan berjuta rakyat negeri ini.<br />
Berbusa dan semangat ia berbicara, mencela-cela.<br />
Tidak lupa, ia mengangkat kerakyatan yang selama ini diajarkan oleh kampusnya.<br />
<span id="more-31"></span><br />
Lalu, saya bertanya:<br />
(+) Baik lah teman, seandainya ekonomi itu hanya ada dua, liberal dan kerakyatan, kau pilih apa?</p>
<p>(-) Tentu kerakyatan! Kampus saya adalah penganut kerakyatan nomor satu di negara ini. Hina dina rasanya jika kami memilih liberal yang.. (orasi berlanjut)</p>
<p>(+)Dan saya juga memilih kerakyatan, teman</p>
<p>(-) Apa maksud mu?</p>
<p>(+) Hanya, berbeda dengan kau, yang memilih kerakyatan karena asal almamatermu, aku memilih kerakyatan karena pengetahuan ku.<br />
Pengetahuan yang aku dapat dari kampusku, sebuah dorongan untuk mencari, tanpa ada klaim akan kebenaran mutlak yang diselimuti oleh prasangka:<br />
Semangat liberal.</p>
<p>Sekarang, kau tahu, apa itu liberal?</p>
<p>-Tribute to Dosen-Dosen, yang memberi semangat kebebasan untuk pembebasan.-</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rizkiaha.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rizkiaha.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rizkiaha.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rizkiaha.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rizkiaha.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rizkiaha.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rizkiaha.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rizkiaha.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rizkiaha.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rizkiaha.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rizkiaha.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rizkiaha.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rizkiaha.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rizkiaha.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkiaha.wordpress.com&amp;blog=8830387&amp;post=31&amp;subd=rizkiaha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rizkiaha.wordpress.com/2009/08/01/tribute-to-dosen-dosen-liberal-di-feui/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afcff417661c298ea5acf24a7c0767fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aha</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
