Semangat membela kebenaran harus disertai keterbukaan terhadap kebenaran lainnya. Tanpa itu, semangat hanya akan menjadi ekstremitas. Lalu, pada akhirnya, si pembela kebenaran, akan menjadi penginjak kebenaran.
Syahdan, satu hari, karena kesal terhadap bapak-bapak yang melakukan pelecehan di kereta, seorang pemuda menempelengnya. Keras, tanpa perlawanan.
Itu buruk, salah, dan sampai kapan pun tidak bisa dibenarkan.
Continue reading ‘Tentang Semangat’
